Berita

Berita Seputar Sumatera Barat

BeritaKabupaten Padang Pariaman

Warga Huntara Katapiang Dilatih Manajemen Stres dan Diberi Ruang Curhat oleh Tim UNP

TVRI Sumatera BaratSosial 21 Agustus 2026 JAM 15:32:55 WIB

PADANG PARIAMAN — Puluhan warga penyintas bencana banjir bandang yang tinggal di Hunian Sementara (Huntara) Nagari Katapiang, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, mengikuti kegiatan pendampingan kesehatan mental dan psikoedukasi yang digelar Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas
Negeri Padang (UNP).

Kegiatan bertajuk "Membangun Ketahanan Keluarga Pasca Bencana melalui Program Pelatihan Manajemen Stres dan Penguatan Komunikasi Keluarga bagi Warga Hunian Sementara Nagari Katapiang" ini berlangsung di kawasan Huntara Nagari Katapiang. Program ini dikhususkan bagi para ibu rumah tangga sebagai pengelola utama kehidupan keluarga.

Program ini merupakan bagian dari Skema Program Integrasi Prodi dan Nagari (PIPN) yang diinisiasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNP. Tim pengabdi diketuai oleh Nurmina, S.Psi., M.A.,
Psikolog, dari Departemen Psikologi, Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK) UNP. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis, 30 Juli 2026.

Dampingi Warga di Tengah Penantian Huntara

Bencana banjir bandang yang terjadi sebelumnya menyebabkan kerusakan
pemukiman sehingga warga harus kehilangan tempat tinggal dan menempati huntara sebagai tempat tinggal transisi. Namun, keterbatasan ruang, perubahan lingkungan hidup mendadak, serta ketidakpastian akan kepastian hunian tetap kerap memicu tekanan psikologis seperti stres, kecemasan, dan ketegangan komunikasi
antaranggota keluarga.

Kegiatan pendampingan lapangan ini dilaksanakan oleh tim pengabdi yang terdiri dari 1 dosen pengabdi bersama 3 mahasiswa Psikologi UNP. Kehadiran tim pengabdi bertujuan untuk memberikan ruang aman (safe space) bagi warga dalam merilis beban emosional sekaligus membekali mereka dengan keterampilan regulasi emosi mandiri.
Sesi Curhat dan Menerbangkan "Pesawat Harapan"

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan dan pembacaan doa bersama, dilanjutkan dengan penyampaian arah serta tujuan program oleh tim pengabdi. Untuk mencairkan suasana dan membangun keterbukaan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi curhat kelompok kecil yang didampingi oleh mahasiswa psikologi.
Dalam sesi ini, para ibu rumah tangga diajak untuk membagikan dinamika, keluh kesah, serta kelelahan mental yang dirasakan selama bertahan di lingkungan huntara.

Salah satu sesi interaktif yang paling membekas adalah terapi ekspresif melalui simbolisasi kertas. Para peserta diajak menuliskan kekhawatiran, rasa cemas, dan harapan masa depan mereka pada selembar kertas. Kertas-kertas tersebut kemudian dilipat menjadi bentuk pesawat terbang dan diterbangkan bersama-sama ke udara sebagai simbol pelepasan beban emosional (emotional release) di tengah situasi penantian mereka.

Edukasi Teknik Pernapasan dan Penutupan

Setelah sesi pelepasan emosi, tim pengabdi memberikan materi psikoedukasi praktis mengenai teknik relaksasi pernapasan (deep breathing exercise). Keterampilan sederhana ini diajarkan agar para peserta dapat mengelola kepanikan, ketegangan, atau stres harian secara mandiri saat mendampingi keluarga di rumah.
Sebelum diakhiri, tim memandu sesi evaluasi dan ulasan balik (debriefing) mengenai pesan moral dari seluruh simulasi interaktif. Kegiatan ini juga diwarnai dengan penyerahan buku saku manajemen stress pasca bencana serta pembagian konsumsi dan bingkisan bagi seluruh peserta.

Rangkaian acara ditutup secara khidmat dengan doa bersama. Melalui pelatihan dan pendampingan ini, tim pengabdi UNP berharap kapasitas psikologis dan ketahanan keluarga warga huntara Nagari Katapiang dapat terus menguat selama masa transisi.

Wartawan : Tio Furqan Pratama
Editor : REDAKSI PORTAL MEDIA BARU


❝❞ Komentar Anda

Berita Lainnya

Berita Terkini Seputar Sumatera Barat